Majelis Asma'ul Husna

Facebook


cleaning tips
Biografi

habib ahmad

Al-Habib Ahmad bin Abdullah Al-‘Atthas

Mensyiarkan majelis-majelis dzikir Asmaul Husna bukan tujuan akhir dakwah Habib Ahmad. Majelis-majelis itu hanya tujuan sementara menuju tujuan utama, yaitu menggapai keridhaan Allah SWT, yang hanya dapat diraih saat keimanan seseorang telah sempurna.

 

Asmaul Husna adalah nama-nama Allah yang indah, yang terdiri dari 99 nama. Dengan terus menyebut asma Tuhan­nya, hati seseorang akan terus terpaut kepada-Nya. Selain itu, hatinya pun akan terus mengingat kebesaran-Nya, karena pada nama-nama indah tersebut Allah SWT senantiasa disebut dengan berba­gai sifat-Nya yang agung. Dia adalah Dzat Yang Maha Pemurah, Dia adalah Dzat Yang Maha Penyayang, Dia adalah Dzat Maharaja Diraja, dan seterusnya.

Bila seorang hamba senantiasa meng­ingat Allah SWT dan mengenal-Nya dengan baik berikut berbagai keagungan dan kesempurnaan sifat yang dimiliki-Nya, ia akan memasrahkan dirinya dan se­gala permasalahan hidupnya hanya kepada Allah SWT. Dalam kondisi seperti itulah, keislaman dan keimanan sese­orang tampak dengan jelas. Ia beriman kepada Allah, Yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu, dan ia memas­rah­kan segala sesuatu yang terjadi pada diri­nya hanya kepada Allah SWT.

Kondisi itulah yang diharapkan terba­ngun pada diri setiap jama’ah yang meng­ikuti majelis dzikir Asmaul Husna, yang diasas oleh Habib Ahmad bin Abdullah Al-Attas. Mensyiarkan majelis-majelis dzikir Asmaul Husna bukan  tujuan akhir dakwah Habib Ahmad. Majelis-majelis itu hanya tujuan sementara menuju tujuan utama, yaitu menggapai keridhaan Allah SWT, yang hanya dapat diraih saat ke­imanan seseorang telah sempurna.

Itulah harapan Habib Ahmad, yang de­ngan penuh kesabaran tak henti ber­dakwah ke berbagai pelosok daerah, bah­kan hingga ke berbagai negara, sejak masa mudanya. Dalam dakwahnya, ia meng­ajak kaum muslimin agar benar-be­nar mengenal Tuhannya, Allah SWT. Itu semua semata-mata dengan harapan agar sebanyak-banyaknya umat manusia dapat selamat di dunia dan di akhirat. Inilah ruh dakwah Rasulullah SAW dan para salafush shalih, yang dilanjutkan oleh Habib Ahmad sepanjang hidupnya.

 

Berawal dari Sepuluh Orang

Sejak tahun 1958, Habib Ahmad mu­lai menggelar majelis dzikir Asmaul Hus­na dengan tata cara yang ia susun dan membacanya dari rumah ke rumah se­jumlah kerabatnya.

Ternyata, masyarakat luas tertarik de­ngan cara dakwah Habib Ahmad lewat ma­jelis Asmaul Husna-nya, yang memiliki metode membaca yang mudah diikuti. Dan seiring berjalannya waktu, semakin ba­nyak orang menghadiri majelis dzikir As­maul Husna di rumah kerabatnya ter­sebut.

Menyikapi perkembangan yang ada, pihak keluarga Habib Ahmad, terutama sang istri, mengusulkan kepadanya agar majelis yang diasuhnya itu dipusatkan dan ditetapkan penyelenggaraannya di rumah kediamannya, di kawasan Ben­dungan Hilir, atau biasa disingkat Benhil, Jakarta Pusat. Maka, sejak 1982 majelis Asmaul Husna dilaksanakan setiap bulan di rumah Habib Ahmad, tanggal 14 atau 15 bulan Hijriyyah.

Bulan pertama yang ikut baru sepu­luhan orang. Bulan kedua, jumlahnya ber­tambah menjadi sekitar lima puluh orang. Bulan ketiga, jumlah yang hadir sudah mencapai seratus orang lebih.

Begitu seterusnya, dari bulan ke bu­lan, semakin banyak orang yang tertarik mengikuti majelis tersebut. Tak ayal, saat majelisnya itu digelar, jama’ah yang hadir membludak hingga ke luar rumah. Saat ini jumlah jama’ah yang hadir dalam se­tiap kesempatan majelis Asmaul Husna bulanan di Benhil mencapai sekitar dua ribu orang.

Dari waktu ke waktu, keberadaan ma­jelis ini kian berkembang. Jama’ah yang tinggalnya jauh meminta izin kepadanya untuk membuka cabang. Maka, tahun 1984, mulailah cabang majelis Asmaul Husna dibuka di Cisalak, Bogor. Setelah itu, berdirilah lagi satu-dua cabang di se­jumlah daerah.

Permintaan untuk membuka cabang-cabang majelis Asmaul Husna terus ber­datangan. Namun Habib Ahmad belum berkeinginan membuka banyak cabang di daerah-daerah. Tampaknya, ia lebih ingin memantapkan dulu “fondasi” majelis Asmaul Husna di rumahnya.

Sampai akhir hayatnya, selain di ru­mahnya sendiri, majelis Asmaul Husna yang langsung ia asuh jumlahnya hanya berkisar lima majelis. Sebelum wafat, ia sempat pula membuka sebuah cabang majelis Asmaul Husna di kota Pekalongan.

 

Sampai ke Eropa

Di antara pesan Habib Ahmad sebe­lum wafat adalah agar penyelenggaraan majelis dzikir Asmaul Husna dilanjutkan sampai kapan pun, sampai batas ke­mam­puan yang terakhir, mengingat be­gitu pentingnya majelis Asmaul Husna ini.

Mengemban amanah melanjutkan ma­jelis Asmaul Husna memang tidak ri­ngan, sebab majelis ini membawa kebe­saran nama Allah. Karenanya ia juga meng­ingatkan agar seikhlas mungkin me­ngemban amanah ini dan jangan pernah terpikir bayaran dari mana pun. ”Biarlah Allah SWT yang kelak akan membayar amal-amal kita,” demikian pesannya.

Setelah wafatnya Habib Ahmad pada tahun 1994, cabang-cabang majelis Asmaul Husna semakin berkembang luas, sampai merata di seluruh Jabota­bek, hingga ke Jawa Tengah, Jawa Ti­mur, Bali, Kalimantan, Ambon, Batam, Aceh, bahkan hingga ke negeri-negeri jiran, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. Kini, sejumlah majelis Asmaul Husna juga digelar secara rutin di Aus­tralia dan sejumlah negara Eropa.

Selain itu, lewat amanah yang disam­paikan kepada salah satu muridnya, dzikir Asmaul Husna ini pun setiap tahunnya dibaca oleh sekelompok jama’ah haji saat wuquf di Arafah. Sampai saat ini, amanah tersebut masih dijalankan.

Menurut keterangan Habib Umar, putra tertua Habib Ahmad, majelis yang tercatat hingga sekitar dua tahun yang lalu ada di 1.700-an tempat. Sementara yang tidak tercatat mungkin sebanyak itu pula, karena majelis-majelis kecil Asmaul Husna yang terbentuk secara sporadis dan ”turun-temurun” tampak ada di mana-mana pada saat ini.

 

Sosok Habib Ahmad

Habib Ahmad lahir di kota Ambon pada tanggal 16 Desember 1916 dari pasangan Habib Abdullah bin Hasan Al-Attas dan Syarifah Syaikhah binti Abdul­lah Al-Habsyi. Ayahnya, yang berasal dari Hadhramaut dan kemudian mene­tap di Ambon, adalah saudara Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas, salah seorang ulama termasyhur di Hadh­ramaut, yang menjadi guru  hampir seluruh ulama dan habaib besar di masanya.

Habib Ahmad sangat beruntung, ka­rena ayahnya adalah seorang ulama be­sar yang terlahir dari rahim tarbiyah ula­ma-ulama besar Hadhramaut, termasuk dari Habib Ahmad bin Hasan, kakak sang ayah.

Keberuntungan yang ia dapatkan itu benar-benar ia manfaatkan sebaik-baik­nya. Kepada ayahnya ia menimba ilmu sebanyak-banyaknya, sejak dari masa kecil. Sekalipun tidak sampai harus bel­ajar ke negeri leluhurnya di Hadhramaut, dikarenakan lingkungan keluarga yang kondusif dan berada di bawah asuhan tangan seorang ulama Hadhramaut yang diakui kealimannya ini, ia tumbuh besar dalam suasana keilmuan yang penuh gairah.

Dalam usianya yang baru menginjak belas­an tahun, Habib Ahmad sudah hafal Al-Qur’an. Bukan hanya Al-Qur’an, se­jum­lah kitab pun sudah di luar kepala, seperti kitabMatn Az-Zubad dan bahkan kitab Ihya’ Ulumiddin.

Walhasil, masa kecilnya dihabiskan untuk menuntut ilmu kepada ayahnya, Habib Abdullah bin Hasan, pada semua di­siplin ilmu agama. Untuk lebih memper­kaya khazanah keilmuannya, ia juga menimba ilmu kepada Habib Abdullah bin Husen Al-Habsyi, kakeknya dari pihak ibu, yang juga seorang ulama yang dike­nal akan kefaqihannya.

Lewat asuhan dua Habib Abdullah tersebut, kemampuan bahasa Arab-nya diakui tergolong sangat istimewa. Sehing­ga pada saat ia masih bersama orangtua­nya dan kakeknya, ia juga selalu ditugasi untuk menulis jawaban terhadap surat-surat yang datang. Kebiasaannya me­nu­lis­kan surat jawaban kepada banyak kalangan, kolega-kolega orangtuanya, menjadi manfaat tersendiri baginya di kemudian hari.

Pada usia 16 tahun, kepada orang­tuanya ia mengutarakan keinginannya un­tuk berkelana. Melihat kemampuan yang telah dimiliki oleh sang anak, Habib Abdullah mengizinkan. Namun tidak sepeser pun uang yang dimiliki Habib Ahmad pada saat hendak bermusafir, baik milik dirinya sendiri maupun pemberi­an dari ayahnya. Bekalnya pada saat itu hanyalah ilmu yang telah ia dapat dari orangtuanya dan rasa tawakkalnya ke­pada Allah SWT yang memang sangat tinggi.

Tahun 1932, ia pun berlayar ke kota Sura­baya. Di kota ini, ia menemui sejum­lah tokoh Alawiyyin besar pada saat itu. Sekalipun masih sangat muda, ia menda­pat penghormatan istimewa. Kedatang­annya mendapat sambutan yang hangat, ka­rena mereka sudah mengenal kualitas diri­nya lewat surat-surat yang sering ia tulis kepada mereka. Ia dapat tinggal di mana pun ia suka, dan seluruh tokoh Alawiyyin pada saat itu pun berkeinginan agar Habib Ahmad menetap bersama mereka.

Menjadi Imam Masjid di Kobe

Sewaktu di Surabaya, ia bertemu salah seorang kawannya yang mengajak­nya untuk pergi ke Jepang. Gayung pun ber­sambut, karena memang sudah men­jadi cita-cita Habib Ahmad untuk berke­lana dalam rangka mensyiarkan agama.

Setelah setahun di Surabaya, ia me­lanjutkan perjalanan menuju Negeri Mata­hari Terbit. Di sinilah pengalamannya berdakwah ke mancanegara dimulai.

Sesampainya di Jepang, hatinya se­makin mantap untuk berdakwah. Namun tidak berapa lama ia di sana, karena ada urusan lain yang hendak dikerjakan, ka­wannya meninggalkannya sendiri. Pada­hal, di negeri yang masih sangat asing bagi­nya itu, Habib Ahmad tidak dapat ber­bahasa Jepang ataupun bahasa Inggris. Namun tekadnya yang bulat untuk ber­dakwah membuatnya tetap kukuh untuk tetap tinggal di sana, meski harus memu­lainya sendiri segala sesuatunya dari nol.

Suatu hari, saat berada di sebuah masjid di kota Kobe, Jepang, ia ikut shalat berjama’ah. Ketika itu shalat diimami oleh seorang ulama dari Turki, imam masjid tersebut. Selesai shalat, Habib Ahmad terlibat perbincangan dengannya.

Sesaat setelah saling berkenalan dan berbincang-bincang, imam masjid itu me­ngatakan bahwa besoknya ia akan pulang ke negerinya, dan posisi imam masjid itu diserahkan kepada Habib Ahmad.

Sebenarnya Habib Ahmad menolak. Namun karena desakan dari si imam mas­jid, akhirnya ia menerimanya. ”Anda seorang sayyid yang alim. Anda pantas menjadi imam di sini,” demikian yang dikatakannya kepada Habib Ahmad.

Maka, hari demi hari dihabiskan Habib Ahmad di masjid tersebut, baik menjadi imam masjid maupun sebagai guru dan dai yang mengajak orang-orang di sana kepada jalan kebenaran.

Di Kobe, ia bahkan sempat membuka percetakan Al-Qur’an. Di samping hafal Al-Qur’an, penguasaannya pun sangat baik dalam ilmu-ilmu Al-Qur’an. Karena­nya, ia sendirilah yang kemudian mentah­qiq (meneliti atau mengecek) dan men­tashhih (mengesahkan) setiap penulisan Al-Qur’an yang hendak dicetak.

Setelah berdakwah di Kobe selama sekitar lima tahun, ia melanjutkan per­jalanan ke negeri lainnya. Pilihan selanjut­nya adalah Hong Kong. Di negeri itu ia sempat berdiam sekitar dua tahun.

Setelah dari Hong Kong, ia melanjut­kan kembali perjalanannya ke RRT (se­karang RRC), tepatnya di kota Shang­hai.

Di Shanghai, pada satu kesempatan shalat berjama’ah, ia kembali terlibat per­bincangan dengan imam masjid tersebut, yang rupanya adalah seorang sayyid dari keluarga Al-Attas pula. Keakraban di antara keduanya pun segera terbangun.

Karena sudah ada orang yang tepat di negeri itu, Habib Ahmad tidak berke­inginan untuk tinggal lebih lama di sana. Hanya beberapa hari ia bermalam di kota Shanghai.

 

Memantapkan Aqidah Umat

Habib Ahmad adalah teladan seorang anak yang sangat memuliakan orangtua­nya. Bila hendak pergi ataupun bila ingin pulang, ia akan meminta izin terlebih dulu kepada mereka. Setelah beberapa tahun berkeliling di sejumlah negara kawasan Asia Timur, ia mengirim surat kepada ayahnya, memohon izin untuk pulang ke Ambon.

Rupanya, saat itu ayahnya sudah hijrah ke Jakarta. Dari Jakarta, ayahnya mengirim balasan agar, kalau hendak pulang, tak usah pulang ke Ambon, tapi ke Jakarta. Karena ayahnya sudah ting­gal di Jakarta. Maka, dari RRT, ia pun ber­layar ke Jakarta.

Sebelum sampai di Jakarta, ia transit terlebih dulu di Singapura. Di sana kem­bali ia menyempatkan diri untuk berdak­wah. Dan di Negeri Singa ia menikah dan mendapat seorang anak yang dinamai­nya ”Musa Al-Kazhim”.

Setelah sekitar empat tahun menetap di Singapura, ia kembali ke Indonesia, dan langsung ke Jakarta, untuk menemui ayahnya, yang sudah lebih dari sepuluh tahun tak bersua dengannya.

Di Jakarta, ia kembali menjalankan aktivitasnya dalam berdakwah. Bukan hanya di Ibu Kota, dakwahnya juga sam­pai Sukabumi dan Cianjur. Dakwah yang disyiarkannya lebih ditekankan pada ma­salah keimanan atau tauhid.

Penekanan pada masalah tauhid itu dikarenakan da­lam pandangannya pada saat itu prak­tek-praktek kemusyrikan masih tumbuh subur di tengah masya­rakat.

Di kota ini ia menikah dengan Sya­rifah Syaikhah binti Umar Al-Attas, cucu sam­ping Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas Empang Bogor, dan mendapat putra dan putri: Umar, Zainah, Isa, Abdullah, Syu’aib, Muhammad Ridha, dan Ibrahim Luthfi. Kini, mereka melan­jutkan amanah dakwah yang telah di­rintis sang ayah.

 

Perniagaan Akhirat

Selain hafal, Habib Ahmad secara ru­tin juga membaca Al-Qur’an. Bahkan ia mengkhatamkannya setiap hari. Kemam­puan mengkhatamkan Al-Qur’an seperti ini amatlah jarang di zaman sekarang. Setiap kali khatam, ia membaca kembali dari mushaf yang baru, sementara mus­haf yang telah selesai dikhatam­kan­nya diberikannya ke­pa­da orang lain. Tak aneh, setiap bulan ia mem­beli Al-Qur’an da­lam jumlah kodian, seperti halnya orang yang hendak ber­niaga. Dan me­mang, ia sedang ”ber­niaga” dengan ”per­niagaan akhirat”.

Tampilan pakaiannya selalu seder­hana, namun kedudukannya di majelis-majelis terhormat maupun di mata se­jum­lah tokoh Alawiyyin cukup istimewa. Pada majelis khatam kitab Al-Bukhari di Jakar­ta, misalnya, ia kerap didaulat un­tuk me­mimpin. Begitu pun pada majelis Maulid di Solo, biasanya ia yang diminta untuk menutup doa akhir.

Meski amat dihormati, sebagaimana akhlaq datuknya, Rasulullah SAW, ia sangat menyukai berada di tengah-te­ngah kaum fuqara’. Di antara para ja­ma’ahnya, yang paling sering dikun­jungi­nya justru yang paling faqir di antara me­reka. Ia juga seorang yang sangat sabar dan tak pernah menampakkan kema­rah­an kepada siapa pun, hingga membuat anak muda pun tak sungkan bicara ke­padanya.

Ia juga seorang yang tak pernah me­nolak kehadiran siapa pun. Pintu rumah­nya terbuka 24 jam, dan setiap orang yang datang disambut dengan tangan terbuka. Putra-putranya pun dididik agar memuliakan dan menjadi pelayan bagi para tamu.

Sosok ulama seperti Habib Ahmad inilah, yang mau menuntun orang banyak dengan penuh kesa­baran, yang sangat dibu­tuhkan umat di zaman sekarang ini.

Akhlaq Habib Ah­mad memang amat terpuji. Ia tak pernah ingin merepotkan siapa pun. Bahkan, hingga di saat men­jelang wafatnya pun, ia selalu berharap agar Allah memanggil-Nya dalam kondisi waktu yang tidak memberatkan bagi para jama’ah yang hendak turut mengan­tarnya ke peristirahatan yang terakhir.

Allah SWT mengabulkan harapan itu. Dengan tenang, pada tahun 1994, Habib Ahmad wafat di hari Ahad, hari libur bagi mereka yang bekerja ataupun berse­kolah.